3. Penyakit Takut dan Bimbang

3. Penyakit Takut dan Bimbang

Penyakit yang sering bercokol dalam hati manusia ialah penyakit takut dan bimbang. Penyakit ini pun biasanya timbul akibat rasa ketidak-pastian yang telah diterangkan di atas. Kedua penyakit ini tumbuh akibat kurang yakinnya seseorang akan kemutlakan kekuasaan Allah SWT. Kurang yakinnya seseorang akan kemutlakan Allah ini menyebabkan ia kurang pasrah dalam mewakilkan nasibnya kepada Allah. Di dalam bahasa al-Qur’an dikatakan orang ini tidak tawakkal.

Tawakkal ‘ala Allah artinya mewakilkan nasib diri kepada Allah semata. Kelemahan diri manusia akibat dari proses kejadiannya itu (lihat E.1.) telah menyebabkan manusia senantiasa merasa tergantung kepada sesuatu yang lain. Jika ia yakin akan kekuasaan mutlak Allah SWT, maka ia akan puas dengan ketergantungannya kepada Allah saja. Jika ia kurang yakin akan kemutlakan kekuasaan Allah SWT, maka kebimbangan segera timbul. Kebimbangan ini kemudian akan berkembang menjadi rasa takut.

Rasa takut itu biasanya timbul terhadap perkara yang akan datang yang belum tentu akan terjadi. Misalkanlah perkirkiraan yang wajar menunjukkan bahwa kemungkinan terjadinya perkara itu dan akan berakibat jelek terhadap kita 50%. Biasanya dengan pengandaian yang dilebih-lebihkan dibayangkan seolah-olah kemungkinannya jauh lebih besar dari 50%, maka kita pun ketakutan.

Padahal, jika kita sadar, bahwa kita boleh saja mengandaikan sebaliknya, yaitu lebih kecil dari 50% bukankah kita tak perlu takut. Dalam keadaan tidak takut kita dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk mengatasi akibat yang akan mungkin terjadi itu. Biasanya di bawah tekanan rasa takut orang sudah tidak dapat lagi berpikir wajar, bahkan bagi setengah orang bisa menjadi panik dan berhenti berpikir sama sekali.

Namun di atas semua itu, keyakinan akan seluruh sifat-sifat (attribute) Allah yang mutlak pasti akan menentukan dan memelihara kemantapan hati seseorang. Bukankah Allah SWT telah mcnjamin, bahwa “tidak akan mengenai suatu kejadian akan kita, kecuali jika memang telah ditetapkan Allah bagi kita.” Dalam firman-Nya:

“Katakanlah: ‘Takkan ada apapun yang akan menimpa kami, kecuali yang telah ditetapkan Allah; Dialah Pelindung kami, maka hanya kepada-Nya-lah si Mu ‘min mewakilkan urusan mereka’ . ” (Q. 9: 51).

Takut dan bimbang adalah gejala jiwa yang kurang bertawhid. Dengan perkataan lain takut dan bimbang ialah pertanda syirik. Dr. Muhammad Iqbal, pujangga Islam terkemuka dalam abad ini telah menyatakan syirik setiap luapan takut dan bimbang dalam salah satu sajaknya yang bcrjudul: “Laa Takhaf Wa Laa Tahzan”.

Laa Takhaf Wa Laa Tahzan

Wahai kau yang dibelenggu rantai takut dan gelisah

Pelajarilah mutu kata Nabawi: “Laa Tahzan”

Jangan takut tak berketentuan

Jika adalah padamu Tuhan Yang Maha Kuasa

Lemparkanlah jauh-jauh segala takut dan bimbang

Lemparkan cita untung dan rugi

Kuatkan iman sekuat tenaga

Dan kesankanlah berkali-kali dalam jiwamu: “La Khaufun ‘Alaihim”

Tiada resah dan gentar pada mereka bagi zaman ‘kan datang

Bila Musa pergi kepada Fir’aun

Hatinya membaja oleh mutu kata:

“Laa Takhaf, janganlah takut dan bimbang”

Siapa yang telah mempunyai semangat al-Musthafa

Melihat syirik dalam setiap denyut dan luapan takut bimbang.

Cara mengatasi rasa takut ialah dengan tawakkal ‘ala Allah, artinya mewakilkan perkara yang kita takuti itu kepada Allah SWT, maka Allah akan memberikan pemecahan masalah tersebut. Di samping itu kita mempersiapkan diri seperlunya untuk mengatasi kemungkinan akibat buruk dari perkara tersebut bila terjadi.

Andai kata perkara itu terjadi benar-benar, maka kita tidak akan terkejut lagi, sehingga dapat lebih tenang mengatasinya. Betapapun jelek akibat terjadinya perkara tersebut atas diri kita, maka dengan bertawakkal ‘ala Allah itu kita akan siap menerimanya sebagai kehendak Allah, Yang sedang menguji kita. Maka jika kita berhasil keluar dari peristiwa itu biasanya kita akan punya iman yang lebih menebal. Itulah yang dialami para nabi dan rasul dalam meningkatkan iman dan tawhid mereka.

Nabi Musa AS, umpamanya, telah mengalami segala macam ujian Allah yang berat-berat demi meningkatkan iman dan tawhid beliau. Musa AS mematuhi segala yang telah diperintahkan Allah kepadanya sepenuhnya. Kadang-kadang beliau juga merasa bimbang dan ragu, dan perasaan ini dijelaskan beliau kepada Allah, dan Allah memberikan bantuan seperlunya. Pada saat beliau, karena mematuhi perintah Allah, membawa seluruh orang Yahudi pindah keluar dari tanah Mesir, maka beliau dihadapkan dengan cabaran Allah yang cukup berat.

Ketika rombongan yang besar itu sampai ke pantai laut Merah kelihatan di belakang lasykar Fir’aun, yang siap akan menghancurkan mereka, datang mengejar. Maka, Musa AS dihadapkan dengan jalan buntu. Padahal beliau sampai ke situasi ini bukan karena kehendak beliau sendiri; beliau sampai ke situasi ini hanya karena mematuhi perintah Allah, maka ketika beliau mewakilkan perkara ini kepada Allah, maka Allah SWT segera memberikan pemecahan masalahnya, dan dengan demikian Musa menjadi lebih matang. Inilah yang digambarkan oleh sajak berikut ini:

Have you ever been to the Red Sea shore in your life,

Where inspite of everything you can do,

There is no way back, there is no way out,

There is no other way but through.

Jika diterjemahkan kira-kira:

Pernahkah dalam hidup ini anda terbuntu di Laut Merah,

Yang walau apapun anda boleh buat dan rancang,

Namun anda tak mungkin mundur konon pula menyerah,

Satu-satunya jalan hanyalah terus ‘nyeberang.

Musa AS tawakkal ‘ala Allah atas perkara yang sedang dialaminya akibat patuhnya beliau kepada perintah Allah, maka Allah SWT tak mungkin mengecewakan hamba-Nya yang memenuhi seluruh kehendak-Nya.

“Wahai orang yang beriman, jika kamu menolong (melaksanakan semua perintah) Allah, maka Ia akan menolong kamu dan memantapkan langkah-langkahmu.” (Q. 47:7)

Maka dengan kehendak Allah laut Mcrah menyibakkan airnya dan memberikan rombongan Musa AS jalan untuk lewat menyeberang. Sementara itu barisan lasykar Fir’aun dihadang oleh api besar sampai rombongan Musa AS hampir selesai menyeberang. Sesudah api besar itu reda, lasykar Fir’aun mengejar menyeberangi laut yang masih terbuka itu sampai ke tengah, maka laut itu pun menelan mereka seluruhnya. Inilah kekuatan pengaruh tawhid yang bagi seorang Rasul seperti Musa AS telah berubah menjadi apa yang dinamakan mu’jizat.

Ummat Muhammad SAW telah mendapat karunia khas berupa mu’jizat yang tidak saja diajarkan oleh beliau, bahkan telah dipusakakan beliau kepada ummat yang sangat dicintai beliau ini. Kehebatan sikap tawhid ini akan selalu terbukti seandainya ummat ini bersedia menghargai dan mengamalkannya. Sayang, kebanyakan ummat kita masih terlalu tebal kemusyrikannya, sehingga terhadap ilah yang berupa rokok saja pun kebanyakan ummat kita masih takluk tak berkutik, termasuk sebahagian pemimpin dan ulamanya! AstaghfiruLlah . Ya Allah, ampuni dan tunjukilah kami semuanya dalam mencapai ridha-Mu …!!!


Kuliah Tauhid

Ir. Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim M.Sc.

Diterbitkan oleh Pustaka-Perpustakaan Salman ITB

Bandung, 1400H, 1980

Cetakan 1, 1979, dan cetakan 2 1980

(Muhammad ‘Imaduddin ‘AbdulRahim Ph.D., KULIAH TAWHID, Yayasan Pembina Sari Insan (YAASIN), Jakarta, 1993)