3. Takhta dan Penyalahgunaannya

3. Takhta dan Penyalahgunaannya

Demikian pula halnya orang yang berpangkat tinggi, karena pangkat itu selalu sebanding dengan kekuasaan atau pengaruh. Apabila kekuasaan yang mengiringi pangkat itu tidak seimbang dengan kekuasaan pengawalnya (control), yang biasanya disebabkan oleh terjadinya hubung-singkat antara kepemimpinan politik dengan kepemimpinan militer, akan mudah sekali menyebabkan pemegang pangkat tersebut menjadi musyrik. Dalam sejarah kemanusiaan sering terbukti, bahwa pemimpin yang mengalami hal tersebut akan menganggap pangkat yang diperolehnya adalah prestasi pribadinya semata, maka mulailah ia mempertuhankan dirinya sendiri. Rakyat yang seyogyanya dipimpinnya, serta negara yang dipercayakan kepadanya akan dianggapnya milik pribadinya. Ingatlah kaisar Perancis, Louis ke-XIV, yang berani berkata: “L’etat, c’est Moi” (Negara, itulah Aku). Louis telah menganggap negara sebagai milik pribadinya.

Tokoh yang sangat populer dalam hal ini dari sejarah kuno, sehingga berulang kali diceritakan di dalam al-Qur’an ialah Fir’aun dari Mesir, dan Namrud dari Mesopotamia. Fir’aun, yang oleh kegagahannya dan keberhasilannya dalam menjayakan negeri Mesir semasa Nabi Musa dilahirkan, telah berani menganggap dirinya paling berkuasa. Rakyat, yang pada mulanya terbius oleh kekaguman akan pemimpin hebat ini menerima saja segala tuntutan Fir’aun.

Akhirnya, Fir’aun menobatkan dirinya menjadi tuhan, atau maharaja, pembuat dan penentu hukum, maka semua keinginan dan titahnya menjadi undang-undang kerajaan Mesir ketika itu. Rakyat akhirnya ditindas oleh Fir’aun, yang sudah mulai menganggap dirinya tidak pernah bersalah. Sesuai dengan “penyakit iblis” yang sangat mudah ditularkan itu, maka rakyat Mesir pun mulai menilai diri mereka sebagai manusia yang lebih mulia dari manusia lain, karena asal usul dan darah mereka. Maka dengan sendirinya, jika ada yang lebih mulia tentu ada pula lawannya, yaitu yang kurang derajatnya.

Orang-orang Yahudi, yang dibawa oleh Nabi Yusuf dan para saudaranya, keturunan Nabi Ya’qub ke Mesir beberapa generasi sebelumnya, telah berkembang dengan subur dan makmur di bawah kebijaksanaan pemerintah raja-raja sebelumnya. Maka rasa iri dan hasad yang timbul di kalangan bangsa Mesir asli menyebabkan mereka tega menindas bangsa Yahudi ini.

Segala pekerjaan yang kotor dan berat ditugaskan hanya untuk dilakukan oleh Yahudi. Bahkan mereka dijadikan hamba bangsa Mesir, yang mesti bekerja tanpa upah. Maka bentuk sosial dan ekonomi Mesir pun berubah menjadi masyarakat yang berkelas-kelas. Akhirnya, Fir’aun dengan dukungan rakyat Mesir asli telah mcngangkat dirinya menjadi tuhan (pembuat dan penentu hukum) bagi negeri Mesir.

Allah melahirkan Musa AS di kalangan bangsa Yahudi, yang sedang tertindas itu. Musa sempat mengecap pendidikan tertinggi ketika itu, yaitu dibesarkan dan diasuh di dalam istana Fir’aun sendiri. Ketika Musa, sesudah menerima wahyu, menyatakan kepada Fir’aun, bahwa tuhan satu-satunya yang benar dan paling berkuasa ialah Allah Pencipta seluruh alam, maka Fir’aun dengan bangganya menjawab: “Aku tidak menyangka, bahwa kalian masih punya tuhan selain diriku.” (Q. 28:38).

Pada hakikatnya Fir’aun bukan tidak percaya akan adanya Allah Maha Pencipta langit dan bumi. Ia hanya kejangkitan penyakit, yang sengaja ditularkan oleh iblis, yaitu sombong atau bangga akan keturunan, yang sudah kita kupas dalam bab yang lalu. Fir’aun sebenarnya percaya akan adanya Allah Maha Pencipta, tapi di samping itu ia ingin mempertahankan statusnya sebagai satu-satunya pembuat dan penentu undang-undang (ilah) bagi negeri dan rakyat Mesir, yang sudah berjaya dibangun oleh ayahnya dan dikembangkan olehnya sendiri, dengan menindas dan menghisap darah kaum Yahudi sebagai penyedia tenaga buruh (budak) yang gratis.

Oleh karena itu, konsep TAWHID yang ditawarkan Musa demi menegakkan kembali hak asasi manusia bagi kaum Yahudi ini telah dicemoohkan Fir’aun dan ditolaknya mentah-mentah sampai ia akhirnya ditenggelamkan Allah SWT di laut Merah, ketika sedang mengejar pengungsi Yahudi yang dipimpin Musa AS ini.

Penyakit jiwa yang sama telah dialami juga oleh Namrud ketika ditantang Nabi Ibrahim AS. Namrud juga sempat mengagungkan dirinya sebagai pencipta dan penentu undang-undang, yang bisa dipaksakannya kepada rakyatnya, karena kebetulan rakyat berwatak suka berpikir di dalam bentuk simbol-simbol dan slogan-slogan. Rakyat, yang terdidik berpikir simbolistis dan karenanya mudah percaya kepada tahyul dan klenik ini, diperas oleh Namrud dengan menyediakan patung-patung ciptaan seniman pemahat yang paling unggul, yaitu Azar.

Setiap patung ini menyatakan simbul keagungan bangsa, yang sebenarnya tiada lain melainkan keagungan dan kemegahan (baca: impian) Namrud sendiri. Oleh karena itu, semua patung-patung ini harus diagungkan oleh rakyat dengan menyatakan kepatuhan mereka kepada negara, yang sudah diidentikkan dengan Namrud sendiri. Dengan demikian ia berhasil memakmurkan negerinya dengan memanfa’atkan tenaga rakyat yang murah, sehingga ia bisa menumpuk harta kekayaan yang berlimpah-limpah. Maka tegaklah kekuasaan Namrud yang mutlak, sebagai satu-satunya pembuat dan penentu undang-undang bagi bangsanya.

Allah telah mentaqdirkan Ibrahim AS justru lahir sebagai anak kandung Azar sendiri. Ibrahim AS, sesudah mendapat wahyu dari Allah SWT, mulai mendidik rakyat dengan mendemonstrasikan betapa tidak masuk akalnya penyembahan akan patung-patung yang merupakan simbul keinginan-keinginan Namrud ini. Beliau memenggal kepala patung-patung ini kecuali yang terbesar, dan meletakkan kampak yang dipakainya di tangan patung yang terbesar ini.

Ketika Ibrahim AS diinterogasi di hadapan orang ramai siapa yang memenggal kepala patung-patung itu, maka sambil tersenyum beliau mengatakan: “Kukira si patung besar itu, bukankah di tangannya ada kampak; tanyakanlah kepadanya!” Mendengar jawaban yang cerdik ini rakyat kecil mulai terbuka pikiran mereka, bahwa patung-patung itu sebenarnya tiada berdaya apa-apa, bahkan tak dapat membela dirinya dengan mendustakan tuduhan yang dilemparkan Ibrahim kepadanya. Mereka segera menyatakan: “bukankah dia tidak bisa bicara?”

Tapi justru inilah yang paling ditakuti oleh setiap diktator, yaitu: RAKYAT YANG BISA BERPIKIR DAN BERANI BERBICARA. Maka Namrud merasa rahasia “kesaktiannya”, yang selama ini diagungkan oleh rakyat, akan terbuka, jika dialog antara rakyat –yang sudah mulai berpikir dan berbicara ini– dengan Ibrahim AS diteruskan.

Maka demi menyelamatkan wibawa dan kedudukannya, tanpa memberikan kesempatan akan berlanjutnya dialog antara Ibrahim AS dengan rakyat ini, Namrud segera menjatuhkan hukum dibakar hidup-hidup bagi Ibrahim AS, yang dianggap telah merendahkan wibawa tuhan-tuhan (baca: Namrud dan keluarganya) nan sakti.

Di dalam sejarah kemanusiaan selanjutnya terbukti, bahwa setiap diktator dan maha diraja selalu meletakkan takhtanya di atas segala-galanya. Karena itu nyawa rakyat tidak menjadi perhitungan sama sekali, kecuali jika bersangkutan langsung dengan kelestarian takhta itu. Maka setiap diktator harus mempunyai barisan tentara dan pengawal yang paling kuat serta sangat terlatih dalam menumpas setiap orang yang dianggap akan menyaingi atau menandingi kewibawaannya.

Seorang diktator tidak pernah bisa mentolerir hadirnya penanding wibawanya di dekatnya. Penanding-penanding ini pasti akan disingkirkan atau dimusnahkan sama sekali. Karena itu, ia akan dikelilingi hanya oleh “pendukung-pendukung (penjilat) setia”. Pendukung-pendukung ini biasanya mendapatkan imbalan yang lumayan. Imbalan ini biasanya berbentuk bahagian-bahagian kecil dari takhta (atau wewenang yang terbatas) tadi ditambah dengan jumlah yang lumayan dari dua jenis “tuhan” lainnya (harta dan wanita).

Namun sejarah juga telah berkali-kali membuktikan, bahwa akhirnya setiap diktator itu hancur oleh kekuasaan yang telah dibinanya sendiri. Lihat Hitler, Mussolini, Syah Iran, Marcos, Duvalier, dan lain-lain.

Maka setiap manusia yang ‘arif pasti akan bisa merasakan, bahwa semua “tuhan” yang populer tadi itu bersifat membelenggu serta membatasi kemerdekaannya. Kemerdekaan, yang merupakan ni’mat Allah satu-satunya yang telah membedakan manusia dengan makhluk lainnya ini, sangatlah mahal jika harus dikorbankan demi mendapatkan “tuhan- tuhan” yang sangat relatfp kekuasaannya ini. Kemerdekaan, bagi manusia seperti ini, merupakan nilai dan hak asasi yang paling mahal. Oleh karena itu, setiap orang yang bisa menghargakan serta mensyukuri ni’mat kemerdekaan pasti tidak akan menggadaikannya kupada “tuhan-tuhan” yang tiga tadi, betapapun cemerlang kelihatannya wibawa dan kemegahan yang mengelilingi ketiganya, konon pula kepada tuhan lain yang jauh lebih lemah dan terbatas kemampuannya.


Kuliah Tauhid

Ir. Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim M.Sc.

Diterbitkan oleh Pustaka-Perpustakaan Salman ITB

Bandung, 1400H, 1980

Cetakan 1, 1979, dan cetakan 2 1980

(Muhammad ‘Imaduddin ‘AbdulRahim Ph.D., KULIAH TAWHID, Yayasan Pembina Sari Insan (YAASIN), Jakarta, 1993)

Iklan