6. Muhammad Rasul Allah

6. Muhammad Rasul Allah

Dengan kupasan yang berdasarkan logika semata kita hanya mampu sampai kepada pengetahuan, bahwa yang pantas kita ilahkan hanyalah Allah, Yang punya sifat-sifat Mutlak, Unique (Maha Tunggal), dan Distinct (Beda dengan Semua – Muchalafatuhu lil hawadithi). Sifat-sifat ini penting, namun tidak akan memenuhi kebutuhan manusia yang lebih asasi. Manusia sebagai makhluq yang juga punya rasa di samping aqal menghendaki pula pemuasan fakultas rasa ini. Ketiga sifat Allah tersebut hanya memenuhi kepuasan aqal, mereka belum menyentuh hasrat rasa. Hasrat utama setiap manusia yang ingin hidup normal dan sehat bathiniah tidak terpenuhi hanya dengan mengetahui adanya Allah Yang Maha Mutlak, Maha Tunggal, dan Maha Berbeda dengan semua.

Demi memenuhi kebutuhan asasi manusia inilah, maka Allah dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya telah mengutus para Nabi dan Rasul untuk berdialog dengan manusia dan menerangkan sifat-sifat-Nya yang lain yang dibutuhkan manusia demi memuaskan hasrat aqal dan rasa secara seimbang. Salah satu ayat disampaikan Allah kepada manusia dalam rangka memperkenalkan Diri-Nya kepada manusia ialah: “Sesungguhnya ilah kamu Ilah Yang Satu, tiada ilah lain selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” (Q. 2:163).

Dengan ayat ini Allah telah memperkenalkan Diri kepada manusia sebagai Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Sifat yang dua inilah yang sangat didambakan oleh manusia dalam hidupnya. Tidak ada manusia yang betah hidup di dunia ini tanpa mendapat dan merasakan kasih sayang yang murni, tanpa pamrih. Sebelum manusia mencapai umur ‘aqil baligh, ia telah mendapat kasih sayang yang murni itu dari ibu dan bapaknya. Sebelum ia pandai membedakan mana yang baik dan buruk seyogianyalah manusia diperkenalkan kepada Allah Al Rahman Al Rahim melalui pendidikan yang penuh kasih sayang orangtuanya. Setiap hari sejak kecilnya ia telah dididik mengulang-ulang kedua sifat ini minimum tiga puluh empat kali (tujuh belas raka’at kali dua dalam setiap membaca al Fatihah) demi meyakinkan dirinya akan kasih sayang Allah ini.

Untuk dapat menerima ayat tersebut sebagai firman Allah, maka manusia haruslah mempercayai kerasulan Muhammad SAW sebagai pembawa firman Allah ini. Keyakinan yang bulat akan integritas Muhammad merupakan syarat mutlak untuk menerima al-Qur’an sebagai firman Allah. Oleh karena itu sesudah meyakini kalimat “Laa ilaha illa Allah” seorang Muslim harus pula meyakini “Muhammad Rasul Allah” sebagai commitment kedua.

Kedua kalimat ini dikenal dengan nama “Syahadatain” atau dua kalimah kesaksian. Kalimat kedua merupakan jembatan hati antara setiap Muslim dengan al-Qur’an sebagai firman Allah yang tak perlu diragukannya, karena mengandalkan sifat Muhammad yang terkenal “amanah” itu. Maka seluruh jalan hidupnya akan berpedoman kepada firman Allah yang dikumpulkan di dalam mushaf yang telah mulai dijilid sejak zaman Abu Bakar, shahabat terdekat Rasul, dan khalifah pertama sesudah wafatnya RasuluLlah itu.


Kuliah Tauhid

Ir. Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim M.Sc.

Diterbitkan oleh Pustaka-Perpustakaan Salman ITB

Bandung, 1400H, 1980

Cetakan 1, 1979, dan cetakan 2 1980

(Muhammad ‘Imaduddin ‘AbdulRahim Ph.D., KULIAH TAWHID, Yayasan Pembina Sari Insan (YAASIN), Jakarta, 1993)