1. Penyakit Ria

1. Penyakit Ria

Sangatlah perlu kita sadari beberapa kelemahan yang ada dalam diri kita sendiri. Dengan mengetahui serta menyadari adanya kelemahan dalam diri kita ini semoga kita dapat lebih mudah mengatasi dan mengontrolnya. Kelemahan-kelemahan ini pun disinyalir oleh Allah sendiri dalam al-Qur’an sebagai peringatan bagi manusia. Contohnya:

“Sesungguhnya proses terjadinya manusia (membuatnya) tak stabil. Bila mendapat kegagalan lekas berputus asa. Bila mendapat kemenangan cepat menepuk dada.” (Q.70:19.21)

Ciri manusia seperti yang dikatakan al-Qur’an ini membuat manusia senantiasa merasa cemas akan wujud dirinya. Hal ini bisa difahami jika kita suka mengenang kembali Asal-usul kejadian kita. Setiap manusia berasal dari air mani yang ditumpahkan oleh ayahnya ke dalam rahim ibunya.

Menurut ilmu kedokteran, setiap cc (centim.eter cubic) air mani ini mengandung seratus juta bibit manusia yang bernama spermatozoa, yang bentuknya seperti jarum pentul dengan kepala yang besar dan berekor panjang yang dapat digerak-gerakkan untuk berenang. Dalam setiap kali bersenggama seorang laki-laki yang sehat rata-rata mengeluarkan sebanyak dua setengah cc air mani atau sebanyak 250 juta spermatozoa.

Setiap ekor spermatozoa ini mempunyai sejumlah gene yang mengandung tabi’at dan sifat serta bakat serta jenis kelamin masing-masing. Sedang di dalam rahim ibu biasanya hanya menunggu sebuah sel telur (ovum). Maka setiap manusia pada dasarnya berasal dari satu sel telur, yang menunggu di dalam rahim ketika suami isteri bersenggama, dari salah satu dari 250 juta spermatozoa tadi.

Jadi menurut teori kemungkinan, maka kemungkinan terjadinya seseorang sebagai pribadi dengan bakat dan watak tertentu ialah 1/250 juta, yang dalam ilmu pasti biasanya dianggap sama dengan nol.

Keseluruh spermatozoa yang 250 juta ini harus berjuang mati-matian berenang dari mulut rahim menuju tempat sel telur yang menunggu di mulut pipa fallopi. Pipa fallopi

(Fallopian tube) ialah pipa yang menghubungkan sarang telur dengan rahim. Yang paling dulu sampai dan masuk ke dalam sel telur itulah yang menjadi embryo manusia. Spermatozoa lainnya (yang 250 juta kurang satu) akan terbuang dan mati tanpa meninggalkan bekas dan makna. Padahal jika ketika itu sedang ada dua atau tiga sel telur di dalam rahim itu, maka akan terjadi dua atau tiga bayi yang kembar.

Maka yang terbuang karena terlambat sampai tadi, hilang, tak pernah disebut-sebut, padahal setiap ekornya sudah punya potensi dan bakat serta pribadi masing-masing. Inilah barangkali yang dimaksudkan Allah agar kita mencoba merenungkan dan mcnilai kehadiran kita di dunia ini dengan firman-Nya:

“Bukankah telah berlalu bagi manusia suatu masa, bahwa wujudnya tiada bernilai untuk disebut-sebut? Sesungguhnya telah kami jadikan manusia itu dari setetes mani campuran, untuk mengujinya; lalu Kami anugerahi pendengaran dan penglihatan.” (Q.76:1,2)

Dari proses ini dapatlah difahami betapa manusia menurut asal-usulnya tiada bernilai sama sekali, bahkan kepastian wujudnya pun hampir nol (satu per dua ratus lima puluh juta). Padahal, dengan kehendak Allah SWT manusia telah diangkat menjadi wakil atau khalifah-Nya di muka bumi. Kedua kenyataan ini telah membuat manusia merasa tidak pasti akan dirinya, karena merasa berada di tengah-tengah antara keduanya.

Kenyataan yang pertama berupa kehinaan (insignificance = tidak berarti), sedangkan kenyataan kedua berupa kemuliaan, yang bagi sebahagian besar manusia baru merupakan harapan, yang masih perlu diperjuangkan. Jarak antara hakikat (kenyataan) dan hasrat asli manusia ini menyebabkan ketidak stabilan watak (sikap mental) manusia. Semakin jauh jarak ini semakin tidak stabil wataknya; sebaliknya semakin dekat jarak ini semakin stabillah wataknya.

Mereka yang tidak stabil akan sangat membutuhkan pengakuan dan pujian atau penghargaan. Dengan perkataan lain, pada dasarnya setiap manusia sangat senang, bahkan akan berbuat apa saja yang mungkin sekadar untuk mendapat penghargaan dan pengakuan (approval and recognition). Inilah pokok pangkal dari sifat ria (ingin dipuji). RasuluLlah memperingatkan, bahwa ria ini syirik khafi (syirik kecil). Tapi syirik kecil ini akan mudah menjadi besar jika lepas dari kontrol.

Pada mulanya sikap ini timbul sebagai ‘ujub, yang artinya heran atau kagum, yaitu heran atau kagum akan kebolehan atau kehebatan diri. Sikap ini biasanya timbul ketika orang baru selesai melakukan sesuatu yang mendapat perhatian dan kekaguman orang banyak. Di dalam hati akan timbul perasaan: “Wah, pintar juga saya ini”. Inilah yang dinamakan ‘ujub, dan sikap inilah ibarat “bunga”-nya.

Jika dalam keadaan masih “bunga” ini tidak segera dihapuskan, maka ia akan tumbuh menjadi “putik” nya, yaitu “ria”. Jika ria tadi dibiarkan tumbuh terus, maka ia akan menjadi “buah”, yang dinamai “kibir” atau “takabur” yang artinya membesarkan diri atau sombong. Inilah sifat Namrud dan Fir’aun yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Oleh karena itu RasuluLlah pun pernah bersabda:

“Tidak mungkin masuk surga seseorang yang punya penyakit kibir walaupun sebesar zarah.” (Muslim dan Tirmidzhi).

Cara mengontrol sikap ria ini ialah dengan berusaha senantiasa mengenang (zikir akan) Allah SWT, dan terus menerus menyadarkan diri, bahwa yang berhak mendapat pujian dan pujaan hanyalah Allah semata. Bacaan tahmid (AlhamduliLlah = segala puji hanya bagi Allah) hendaklah dibiasakan, terutama di saat-saat yang menggembirakan, ketika mendapat berita yang baik maupun ketika mendapat sesuatu yang menyenangkan hati terutama ketika dihargai atau dipujikan orang. Tahmid yang keluar dari hati yang ikhlash pasti akan mempertebal rasa tawhid dan menipiskan sifat ria.

Saidina ‘Ali RA pernah agak marah kepada seseorang yang suka memuji beliau dengan mengatakan: “Ana a’lamu bimaa fii nafsii”, yang artinya: “Aku lebih mengetahui tentang diriku”. Dengan teguran itu beliau telah menyatakan, bahwa beliau tak perlu dipuji, karena pujian itu hanya hak Allah SWT. Lagi pula pujian itu mungkin akan merusak mental yang dipuji.

Kuliah Tauhid

Ir. Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim M.Sc.

Diterbitkan oleh Pustaka-Perpustakaan Salman ITB

Bandung, 1400H, 1980

Cetakan 1, 1979, dan cetakan 2 1980

(Muhammad ‘Imaduddin ‘AbdulRahim Ph.D., KULIAH TAWHID, Yayasan Pembina Sari Insan (YAASIN), Jakarta, 1993)